Thursday, February 2, 2012

Ketika 1 + 1 Tak Lagi 2

Gue sering banget jatuh cinta. Gue juga sering banget patah hati. Dari 17 kali jatuh cinta, gue ngalamin patah hati 20 kali. Itu terjadi karena sebelum gue jatuh cinta sama orang, gue udah ditolak mentah-mentah.

Gue sangat males kalo udah menyangkut urusan cinta. Tapi ini sudah menjadi kodrat manusia: jatuh cinta. Entah itu jatuh cinta sama temen, sahabat, peliharaan, bahkan barang. Gue sendiri yang manusia bingung. Gue pernah punya pertanyaan paling goblok yang gue pikirkan: Kenapa penyair jaman dulu menciptakan kata 'jatuh cinta'? Kenapa harus itu sebutannya? Kenapa istilah cinta gak diganti istilahnya menjadi kencing? Mungkin aja kalo istilah itu diganti, unsur keunyuan dan romantisnya lebih kerasa.
Misalnya cowok mau nembak cewek,
"Gue kencing banget sama lo, lo mau gak jadian sama gue?",
lalu si cewek menjawab,
"Gue kencing sama lo, tapi gue juga kencing sama cowok lain, jadi maaf yah"
Akhirnya mereka berdua gak saling mengencingi.

Sekarang, saat gue nulis post ini, gue sedang jatuh cinta. Tapi sayangnya, gue jatuh cinta sama orang yang salah. Dia emang cantik, baik, juga banyak yang naksir. Gue menemukan sesuatu pada dirinya yang berbeda dari cewek lain.
Gue benar-benar jatuh cinta, tapi gue juga sedang jatuh goblok.
Hingga gue udah tau perasaan dia. Gue cuma dianggep sahabatnya. Padahal gue mau lebih! Yap, memang egois, tapi ini sudah menjadi satu paket dengan jatuh cinta.
Ketika kita sedang jatuh cinta, kita akan melupakan segalanya. Kita lupa dengan gengsi, lupa uang jajan, lupa ngecek pulsa, juga lupa kalo ada orang lain yang naksir kita.
Ada satu quote yang mengatakan, "Cinta tak harus memiliki". Itu adalah quote paling idiot yang pernah gue tau. Cinta itu harus memiliki. Seenggaknya, dengan memiliki, kita gak perlu jadi orang munafik.


***


Sebenernya gue gak paham kenapa satu keadaan yang simpel dapat membuat segalanya jadi rumit. Kita ambil contoh, gak usah jauh-jauh, jatuh cinta.
Jatuh cinta ini simpel, sangat simpel malah. Kita gak perlu rumus apapun, entah pitagoras atau eliminasi, cukup 1 + 1 = 2. Tapi gue gak tau apa yang menyebabkannya jadi rumit. Misal gue cinta si A. Tapi si A cinta sama B. Nah si B ini gak cinta siapa-siapa. Lalu si C dateng dan ngomong kalo sebenernya dia cinta sama B. Akhirnya gue gak ngerti gimana cerita cinta gue bisa sama si A sama si B dan sama si C.
Ternyata, menjadi simpel itu yang susah. Sangat susah. Gue menemukan pencerahan ketika gue mencoba untuk jatuh cinta dengan cara yang simpel, sangat-sangat simpel. Gue jatuh cinta dengan prinsip 'aku suka kamu'. Urusan cocok enggak cocok menjadi nomer kesekian.

***

Gue nulis post ini mungkin buat dia. Seseorang yang tidak pernah gue dapatkan. Seseorang yang yang pernah membuat hati gue dipecahkan menjadi ribuan serpihan kecil. Lalu gue coba perbaiki bentuk hati gue menjadi utuh secara perlahan-lahan.. untuk bisa diberikan kepada orang lain.


27 September, 2011

1 comment: