Tersenyum, Puas
Disini, di depan gerbang sekolah. Aku melihat kamu, berjalan tenang dengan seseorang yang kamu cintai. Kamu hanya lewat, tanpa menatap mataku. Entah apakah kamu takut karena melihat seorang kanibal hendak menerkam mangsanya, atau takut untuk melihat wajahku yang merupakan masa lalumu. Masa lalu yang seharusnya hangat untuk dikenang bersama, ternyata menjadi kisah pilu yang menyesakkan dada. Dan aku tahu, tersimpan secuil ketakutan yang tersirat dari bola matamu, bola mata yang pernah menatap dalam mataku. Entah apakah itu memang ketakutan yang menjadi kelemahanmu dan yang menjadi kekuatanku, atau sekedar ilusi picik yang kamu buat samar-samar, seolah nyata.
Lalu kamu duduk di seberang jalan, ditemani orang itu. Aku menatap tajam ke arahmu, kamu tetap berpura-pura tidak melihatku dengan cara berbincang dengan orang itu. Ahh, orang itu. Siswa yang baru saja terpilih sebagai Ketua Osis, duduk santai di sampingmu.
Lamunanku buyar ketika seseorang menyebut namaku,
"Can, aku ke dalem dulu yaa? Entar latian gabungan paskibnya telat lhoo", dia berkata.
"Hemm, aku anter ke dalem gimana?" tawarku.
"Endak usah, nanti kamu malah liatin aku pas latian... Kan aku maluu" katanya manja.
"Enggak kok, kalo aku masuk ciumen aku wes :p" jawabku, penuh dengan kejayusan.
"Wes, egak usah. Enak kamu dong",
"Haha, endak-endak. Aku guyon kok" sergahku.
Tiba-tiba, orang yang berada di seberang jalan itu pergi, meninggalkanmu menangis sendiri. Teman-temanmu mencoba untuk menenangkan, tapi kamu tetap meneteskan air mata. Haha, kamu tak berubah, tetap cengeng seperti waktu dulu.
Mungkin ini karmamu, karma yang terus menghantuimu dan menguntitmu. Mencoba diam-diam mencekrammu disaat yang tak terduga waktu.
Diantara rasa iba dan rasa senang dengan kemenanganku,
aku mencoba untuk tersenyum, puas.
Lalu kamu duduk di seberang jalan, ditemani orang itu. Aku menatap tajam ke arahmu, kamu tetap berpura-pura tidak melihatku dengan cara berbincang dengan orang itu. Ahh, orang itu. Siswa yang baru saja terpilih sebagai Ketua Osis, duduk santai di sampingmu.
Lamunanku buyar ketika seseorang menyebut namaku,
"Can, aku ke dalem dulu yaa? Entar latian gabungan paskibnya telat lhoo", dia berkata.
"Hemm, aku anter ke dalem gimana?" tawarku.
"Endak usah, nanti kamu malah liatin aku pas latian... Kan aku maluu" katanya manja.
"Enggak kok, kalo aku masuk ciumen aku wes :p" jawabku, penuh dengan kejayusan.
"Wes, egak usah. Enak kamu dong",
"Haha, endak-endak. Aku guyon kok" sergahku.
Tiba-tiba, orang yang berada di seberang jalan itu pergi, meninggalkanmu menangis sendiri. Teman-temanmu mencoba untuk menenangkan, tapi kamu tetap meneteskan air mata. Haha, kamu tak berubah, tetap cengeng seperti waktu dulu.
Mungkin ini karmamu, karma yang terus menghantuimu dan menguntitmu. Mencoba diam-diam mencekrammu disaat yang tak terduga waktu.
Diantara rasa iba dan rasa senang dengan kemenanganku,
aku mencoba untuk tersenyum, puas.
Kejadian: Selasa, 26 Oktober 2010
Pkl. 15.36 WIB
Pkl. 15.36 WIB
lucky ;D
ReplyDeletethanks :D
ReplyDeleteokeee ;) komen2 di postku juga dong zan :D
ReplyDeleteoke :)
ReplyDelete