Hari Ini, Penuh Kebencian
Hari ini, berjalan seperti biasa. Langit pagi tetap mendung, seperti biasa. Kelas tetap kotor, seperti biasa. Para guru tetap mengomel, seperti biasa. Tapi, bagiku hari ini tidak biasa. Bagi mereka juga mungkin tidak biasa. Hari ini, adalah hari ibu. Hari dimana semua orang (yang tentunya masih memiliki ibu) mencium telapak kaki ibu, membantu memasak, atau sekedar menyapu teras rumah. Setiap tahun begitu, seperti biasa. Tapi, tahun ini berbeda. Sangat berbeda. Tidak biasa. Hari ini, bagi teman-teman, terasa istimewa.
Jika saja kemarin para pengurus OSIS tidak menyampaikan ide mereka tentang hari ibu kali ini, mungkin hari ini akan terasa seperti biasa. Tetapi, hari ibu kali ini membuatku lebih memahami kebencian, sungguh.
Aku benci ketika aku dipaksa untuk menulis sesuatu tentang ibu. Entah apakah itu surat, puisi, lagu, atau bahkan secarik tulisan berisi penyesalan. Sungguh, aku membencinya. Di secarik kertas kosong yang dibagikan oleh ketua kelas, aku mencoba untuk menulis. Entah apa yang kutulis. Aku menulis apa yang kurasakan. Dan aku merasakan kebencian. Kebencian yang mendalam.
Aku tahu, tulisan itu takkan pernah dibaca. Aku tidak peduli. Aku tetap menulis, sambil sesekali menahan air mata yang akan keluar. Dan didalam tulisan itu, terkubur kasih sayang dan harapan.
Happy motherfucker day.
Jika saja kemarin para pengurus OSIS tidak menyampaikan ide mereka tentang hari ibu kali ini, mungkin hari ini akan terasa seperti biasa. Tetapi, hari ibu kali ini membuatku lebih memahami kebencian, sungguh.
Aku benci ketika aku dipaksa untuk menulis sesuatu tentang ibu. Entah apakah itu surat, puisi, lagu, atau bahkan secarik tulisan berisi penyesalan. Sungguh, aku membencinya. Di secarik kertas kosong yang dibagikan oleh ketua kelas, aku mencoba untuk menulis. Entah apa yang kutulis. Aku menulis apa yang kurasakan. Dan aku merasakan kebencian. Kebencian yang mendalam.
Aku tahu, tulisan itu takkan pernah dibaca. Aku tidak peduli. Aku tetap menulis, sambil sesekali menahan air mata yang akan keluar. Dan didalam tulisan itu, terkubur kasih sayang dan harapan.
Happy mother
0 ocehan: