Sendiri...
Aku selalu suka sendiri. Ada kenyamanan yang terasa berbeda. Entah kenapa, mungkin datang dari rasa tenang ketika keramaian telah reda, kesepian tanpa teman, dan perenungan dibalik jendela kamar. Kesendirian membawa itu semua: tenang, sepi, dan perenungan.
Aku suka sendiri. Aku suka menyendiri di tengah keramaian rumah sambil melamun, melihat ke arah langit-langit kamar, lalu kembali melamun. Tapi aku tak pernah tau, kesendirian ini membawa satu hal yang tidak pasti: kecemasan. Diantara kecemasan ini, kucoba mendengarkan musik dari laptop, lalu bernyanyi parau, yang tersamarkan oleh keheningan. Aku suka tidak bisa mendengarkan suaraku sendiri. Aku suka dibekap tanpa sengaja.
Aku suka sendiri. Terutama ketika aku mencoba untuk memecah keheningan yang kubuat dengan sengaja. Aku membanting pelan handphone ku, lalu menatap lirih ke arahnya, yang kurasa sia-sia. Kucoba untuk terus menatap layar laptop, memainkan mouse kecil butut, dan lagi-lagi keheningan mengusikku dengan tenang.
Tapi aku tidak selalu benci keramaian. Aku tetap dapat sendiri dalam keramaian, melamun dan merenung. Dan seperti biasa, aku masih merasa terjebak dalam kesendirian ini. Keramaian dapat menjadi sesuatu yang tak ku inginkan. Keramaian dapat menelan rasa nyaman. Keramaian membuat temanku pergi. Keramaian bisa menyesatkan dalam kegelapan.
Dan ketika keramaian itu datang, yang diperlukan adalah keberanian untuk melawan rasa sendiri.
Aku suka sendiri. Aku suka menyendiri di tengah keramaian rumah sambil melamun, melihat ke arah langit-langit kamar, lalu kembali melamun. Tapi aku tak pernah tau, kesendirian ini membawa satu hal yang tidak pasti: kecemasan. Diantara kecemasan ini, kucoba mendengarkan musik dari laptop, lalu bernyanyi parau, yang tersamarkan oleh keheningan. Aku suka tidak bisa mendengarkan suaraku sendiri. Aku suka dibekap tanpa sengaja.
Aku suka sendiri. Terutama ketika aku mencoba untuk memecah keheningan yang kubuat dengan sengaja. Aku membanting pelan handphone ku, lalu menatap lirih ke arahnya, yang kurasa sia-sia. Kucoba untuk terus menatap layar laptop, memainkan mouse kecil butut, dan lagi-lagi keheningan mengusikku dengan tenang.
Tapi aku tidak selalu benci keramaian. Aku tetap dapat sendiri dalam keramaian, melamun dan merenung. Dan seperti biasa, aku masih merasa terjebak dalam kesendirian ini. Keramaian dapat menjadi sesuatu yang tak ku inginkan. Keramaian dapat menelan rasa nyaman. Keramaian membuat temanku pergi. Keramaian bisa menyesatkan dalam kegelapan.
Dan ketika keramaian itu datang, yang diperlukan adalah keberanian untuk melawan rasa sendiri.
0 ocehan: