Antara Jakarta Dan Indomie
Dulu, sebelum berangkat ke
Jakarta, kata mereka -kakak kelas- magang di Seamolec itu suram. Setelah saya datang,
semuanya berbeda dengan penggambaran mereka. Yang staffnya garang lah, banyak banci
salonnya lah, maling jemuran berkeliaran lah, apa lah. Cuih, dusta itu.
Biasanya, kata mereka, hari
pertama sampe hari kelima belas makan di kosan itu enak-enak. Dan itu berarti, setengah
bulan kita mendapat protein dan gizi yang cukup. Dengan modal 100rb, kita bisa makan
di warteg dengan standarisasi negara. Lalu, hari-hari berikutnya berganti
dengan 2 kardus mie instan. Uh, sadis.
Selama magang hari-hari pertama, kata mereka, kebanyakan kerja daripada nganggurnya. Entah itu cuma sekedar onlen twitter, sms-an sama temennya yang jomblo, atau nunggu makan siang yang dijatah.
Apalagi buat yang jomblo, kata
mereka, kayaknya udah gak ada harapan lagi merantau. Sungguh kasian yang jomblo…
Berhubung ini ngetiknya ngasal
karena tugas, jadinya cuma coretan gak jelas ginian.
Harap maklum, lagi kena writer’s
block.
Salam kasep
wuih
ReplyDelete